Langsung ke konten utama

Modal Nekat Yang Membuahkan Hasil #AkuInspirasiku

Beruntung. Mungkin itu kata yang paling sering keluar dari mulut orang kepadaku terhadap apa yang sudah aku dapatkan. Ya, aku, yang secara mengejutkan keluarga dan teman-temanku, berhasil diterima dikampus Universitas Padjadjaran fakultas Ilmu Komunikasi program studi Televisi dan Film. Tidak ada yang menyangka, tak terkecuali aku sendiri. Namun, yang paling terharu melihat torehan ini bukanlah aku, justru Ibuku. Melihat anaknya diterima di salah satu kampus terbaik di Indonesia adalah suatu pencapaian yang membanggakan bagi seorang Ibu dalam mendidik anaknya. Namun, pencapaianku ini bukan hanya didapatkan dari faktor "beruntung" saja. Ada proses dibalik itu yang cukup menguras tenaga, pikiran, jasmani, rohani, pokoknya semua deh.


Namaku Muhammad Raffi Iskandar Putra. Teman-teman biasa memanggilku dengan nama Raffi. Aku sekolah di SMA Negeri 5 Depok. Aku anak Depok. Lahir dan tumbuh besar di kota kecil ini. Hobiku membuat film dan videografi. Kulakukan hobi ini sejak kecil. Kelak, kuharap aku bisa masuk ke perguruan tinggi jurusan film untuk mendalami lagi passion ku.

Kisah perjuangan SBMPTN ku dimulai dari kelas 12 akhir. Mungkin terdengar konyol dan mengada-ada, tapi ini benar adanya. Mungkin banyak yang berpikir kalau ini udah mepet, bahkan telalu mepet. Karena selama aku SMA, aku gak pernah mikirin apapun tentang SNMPTN, SBMPTN, UTBK, dan kawan-kawannya. Aku ngga tau dan ngga mau tau. Aku bahkan ngga bisa bedain apa itu SNMPTN, apa itu SBMPTN. Betapa anehnya aku.

Barulah pada saat pengumuman siapa saja yang berhak ikut SNMPTN, kami disuruh untuk login ke website untuk melihat apakah diterima atau tidak. Pada saat itu, aku pokoknya ikut-ikut saja, peduli ngga peduli. Teman-temanku ada yang sedih karena tidak diterima, ada yang senang karena diterima, dan aku tidak diterima, tapi entah kenapa responku biasa saja, hahaha. Lalu ternyata aku baru tahu, kalau SNMPTN ini dilihat dari nilai rapot dari kelas 10 sampai kelas 12. "Seperti itu ternyata", gumam ku kala itu. Semenjak itulah aku mulai sedikit mencari info tentang ini, bagaimanapun ini adalah langkahku selanjutnya selepas jenjang SMA.

Jujur, aku adalah anak yang kurang pintar di sekolah. Anak IPA yang membenci pelajaran Biologi, Kimia, Fisika, dan Matematika. Aku merasa tidak ada gairah selama menjalani masa sekolah ini. Kelas 10 masih semangat. Kelas 11 sudah mulai rada-rada. Kelas 12 chaos sudah, hahaha. Pun begitu, aku bukan orang yang gak punya semangat dan tujuan hidup. Aku punya passion yang sudah sudah ketemukan dalam diriku sejak masih SD. Yaitu Film dan Video Editing. Pada saat perpisahaan SD, guruku membagikan video dokumentasi dan mulai dari situ, aku melihat video itu dan aku tertarik dan didalam hati aku berkata "Kalau aku buat sendiri, pasti bisa lebih keren". Dan hobi ku ini masih berlanjut sampai artikel ini ditulis.

Aku sudah membuat banyak film pendek dan aku unggah ke channel youtube pribadiku. Syukur, kedua orang tuaku selalu support apa yang aku lakukan selama ini dengan memberi semangat dan mereka juga tidak memaksa aku untuk rajin dan pintar selama disekolah asal kalau ujian nilainya jangan jelek. Jadi, niatku setelah lulus SMA, adalah masuk ke perguruan tinggi jurusan Film.

Ternyata, jurusan film termasuk jurusan kategori IPS atau Soshum, sementara selama ini aku adalah anak IPA. Jadi mau gak mau harus lintas jurusan dalam UTBK ini. Jadi...bisa dibilang pelajaran yang masuk selama ini, gak ada gunanya, hahaha.

Jujur aku bingung apa yang harus pertama kali aku lakukan untuk mengejar pelajaran Soshum. Karena dibandingkan dengan teman-temanku yang lain, aku ketinggalan jauh. Yang lain sudah ikut bimbel sana-sini, konsultasi ini-itu, sementara aku masih aja ngedit video. Jadi aku mulai cari cara cepet gimana biar setidaknya "gak buta-buta amat" sama pelajaran Soshum. Aku gak ikut les bimbel karena aku merasa gak cocok sama bimbel jadi aku harus cari alternatif lain.

Somehow, aku lihat di instagram akun @edukasystem yang sedang membagikan TryOut buatan mereka untuk para followersnya. Kemudian aku cek akun tersebut dan aku berpikir, "Udahlah, ikut tryout ini aja, gausah macem-macem". Aku bahkan termasuk orang yang terlambat tau tentang akun ini. Karena eduka baru saja mengumumkan TryOut ke-8 nya pada saat aku mengulik tentang akun ini.

UTBK gelombang pertama seminggu lagi dilaksanakan. Aku langsung memesan TryOut 8 Soshum dari Eduka. Sebelum ini aku benar-benar blank dan gak tau apapun. Pokoknya pelajarin aja semua yang ada di tryout itu dan cari di internet kalau masih ada yang belum paham. Jadi selama seminggu itu aku full belajar hanya berpatokan dari TryOut Eduka ini. Dibandingkan temanku yang lain, mungkin hanya aku yang paling skuy living menghadapi UTBK ini. Ada yang panik, ada yang takut susah soalnya, pokoknya macem-macem deh reaksinya. Karena aku berprinsip, aku sudah berusaha semaksimal yang aku bisa. Kalau sukses, syukur, kalau engga, ya coba lagi. Intinya aku selalu berpikir positif bahwa apa yang aku yakini bisa, pasti akan bisa.

Hari-H UTBK gelombang pertama, aku duduk didepan monitor, memasukan nomor peserta beserta password, dan mengikuti sedikit tutorial. Kemudian disinilah, perang dimulai. Aku berucap do'a terlebih dahulu kepada Allah SWT. dan memohon dimudahkan urusanku ini. Akhirnya aku pun mengerjakan. Tidak terlalu yakin dapat nilai bagus, dan ternyata pada saat pengumuman, nilaiku cukup memuaskan diriku. Aku dapat nilai 574.11. Tidak terlalu besar namun lumayan bagi diriku. Kemudian muncullah benih-benih harapan bahwa aku bisa bersaing setidaknya untuk masuk jurusanku.

Selanjutnya aku langsung memesan TryOut 9 dan 10 untuk kemudian aku kerjakan lalu aku pelajari semua soal-soalnya guna mempersiapkan UTBK gelombang kedua. Disamping belajar, aku tak lupa untuk sholat dan berdoa kepada Allah SWT. untuk selalu diberikan kesehatan, kelancaran, kemudahan dalam urusanku. Selagi itu, aku mulai menyusun rencana. Aku mulai mencari perguruan tinggi negeri maupun swasta yang bisa dijadikan cadangan. Akhirnya aku menemukan yang cocok yaitu Universitas Padjadjaran dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Dan untuk swasta yaitu Institut Kesenian Jakarta dan Telkom University.

Kedua orang tuaku sangat berharap agar aku bisa masuk negeri agar biaya kuliah yang ditanggung tidak terlalu besar. Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa diterima di PTN. Aku melihat dirasionalisasi Eduka bahwa peluang ku diterima di Universitas Padjadjaran sangat kecil bahkan sangat sulit, namun untuk ISI Jogja masih ada peluang. Pada saat itu, aku berpikir "I don't give a sh*t, persetan dengan rasionalisasi, pokoknya do or die". Jadi dengan bermodal nekat, aku memantapkan diri untuk memilih Unpad sebagai pilihan pertama dan ISI Jogja sebagai pilihan kedua. Banyak faktor aku memutuskan pilihan tersebut seperti jarak kampus dengan rumahku saat ini dan lain hal.

UTBK gelombang kedua kulalui dengan hampir sama seperti sebelumnya. Namun kali ini aku merasa sepertinya bisa mendapat nilai yang lebih baik dari sebelumnya. Well, ternyata tidak. Nilaiku turun menjadi 568. Namun itu tidak menyurutkan semangatku. Aku tetap berpegang pada pendirianku. Aku yakin bahwa aku pasti bisa diterima.

Selagi aku menunggu pengumuman SBMPTN, aku mempersiapkan diri untuk skenario terburuk, yaitu mencari cadangan kampus. Aku mempersiapkan diri untuk tes di Institut Kesenian Jakarta. Tidak ada kendala berarti selama menjalani tes disana karena ini memang kegemaran ku jadinya aku biasa saja dalam mengisi soal tes yang diberikan.

Tanggal 3 Juli, pengumuman IKJ. Alhamdulillah diriku diterima di IKJ. Aku merasa lega sekarang, karena kalau SBMPTN tidak diterima, diriku masih bisa melanjutkan studi ke Institut Kesenian Jakarta. Aku meyakinkan kedua orang tuaku bahwa aku pasti bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri. Aku pasti bisa. Tapi sebenernya, aku gak terlalu yakin bisa masuk Unpad. Karena aku pilih itu karena modal nekat. Tapi setidaknya aku dan keluarga yakin pasti aku bisa masuk ISI Jogja. Pokoknya "santai aja".

Lalu hari yang dinanti telah tiba. 9 Juli 2019. Aku menyambut hari itu dengan biasa saja, tidak ada persiapan apapun bahkan aku bangun kesiangan. Kemudian pukul 15.00 tepat aku membuka ponsel ku dan masuk ke website LTMPT. Rada deg-deg-ser di momen itu. Aku masukkan nomor peserta beserta tanggal lahirku. Ku panggil kedua orang tuaku untuk "nobar" hasil pengumuman. Dan....jeng jeng jeng.


Hasil yang sangat tidak diduga-duga. Ternyata modal nekatku membuahkan hasil yang menggembirakan. Aku langsung berucap syukur dan berterima kasih kepada Allah SWT. atas rezekinya aku bisa diterima di Universitas Padjadjaran. Ibuku pun langsung bersujud syukur dan menangis terharu melihat hasil ini. Aku sangat senang bisa diterima di salah satu universitas bergengsi di Indonesia. Tentu ini merupakan prestasi yang sangat membanggakan, setidaknya untuk ku. Jujur aku sering dianggap sebelah mata disekolah. Murid yang gak pinter-pinter amat, sering ngobrol dikelas, tidur dikelas, dll. Tapi akhirnya, usahaku selama ini, belajar melalui TryOut dari Eduka, dan baca-baca dari internet, membuahkan hasil yang sangat tidak diduga-duga.

Allah SWT. tidak pernah tidur mendengar doa-doa kita dan Allah SWT. Maha Tahu apa yang sudah kita usahakan. Aku percaya, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Usahaku dalam belajar dan beribadah kepada sang pencipta dan selalu berbuat baik kepada sesama, menghantarku kepada hasil ini.

Aku yakin, diluar sana banyak yang memiliki cerita seperti ini, tapi yang aku ingin sampaikan...
Janganlah mudah menyerah, jangan mudah pesimis, jangan mudah termakan omongan orang lain, bahkan orang-orang disekitarmu. Yakini dirimu sendiri dan buatlah keputusanmu sendiri. Sedari awal tidak ada yang mendukungku dalam memilih Unpad, tetapi karena keyakinan dalam diriku, aku bisa diterima disini. Teruslah berusaha semaksimal mungkin. Terkadang, modal nekat itu penting. Disaat semua orang memilih universitas yang pasti "aman" diterima, cobalah kamu berbeda dengan orang-orang. Disamping usaha yang maksimal, jangan lupa untuk berserah diri kepada yang Maha Kuasa, karena kepada-Nya kamu meminta pertolongan.

Aku ingin, kamu yang saat ini sedang berjuang dan sedang membaca tulisan ini, ingat pesanku baik-baik...
"Believe in yourself. Pastikan apapun yang akan datang kepadamu, adalah hasil dari keputusanmu sendiri."

----see you next time

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Ikut Tes Beasiswa JPU Telkom University 2019

Formal dikit ya. Saya adalah siswa SMA kelas 12 yang sebentar lagi hendak lulus. Selagi saya menunggu tes UTBK, saya mencari-cari beasiswa yang ada. Kebetulan, pada saat itu Telkom University sudah membuka jalur tes beasiswa andalannya yaitu JPU (Jalur Prestasi Unggulan). Kala itu adalah pertengahan bulai April. Saya lihat di salah satu akun info perguruan tinggi bahwa Telkom University sedang membuka tes beasiswa dan penutupan pendaftarannya tanggal 27 April 2019 dengan tes dilaksanakan 28 April 2019. Saya langsung memberitahukan kedua orang tua saya untuk meminta izin dan meminta uang pendaftaran tes tersebut. Pembayaran dilakukan lewat sebuah PIN. Dan harga pin tersebut adalah Rp.200.000 . Dengan kata lain, biaya masuk tes JPU tersebut adalah Rp. 200.000 . Tanpa pikir panjang saya langsung menuju ATM dan mentransfer sejumlah uang agar pendaftaran berjalan dengan lancar. Oh iya, sebelum membayar, jangan lupa untuk datang ke situs telkom dulu untuk membuat akun Portal Penerima Mahas...